catatan fadillah
Senin, 29 Oktober 2018
Sabtu, 15 April 2017
Epilog
Ibuku tidak sekolah bukan berarti
ibu ku tidak tahu apa-apa
Ibuku tidak sekolah bukan berarti
dia miskin ilmu
Ibuku tidak sekolah bukan berarti
dia tidak pandai membaca
Ibuku tidak sekolah bukan berarti
ibuku bodoh
Ibuku tidak sekolah bukan berarti
dia ketinggalan
Ibuku tidak sekolah bukan berarti
dia tidak pandai mengurus anak
Ibu ku tidak sekolah tatapi dia
pandai dalam agama
Ibuku tidak sekolah tapi dia
elegant
Ibuku memang bukan ibu sosialita,
ibuku bukan ibu yang mengajarkan anaknya bagaimana merasakan kebebasan
pergaulan yang diberikan dunia secara tidak langsung, bagaimana cara
mendapatkan teman, bagaimana mendapatkan kekasih yang kaya dan bagaimana
bersolek cantik agar di tatap lelaki tetapi ibu ku mengajarkan anak-anak nya
tentang kebebasan yang di berikan dunia
yaitu menuntut ilmu, bukan untuk mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang
tinggi tetapi menjadi orang terkaya di dunia dengan ilmu mencari sahabat bukan
teman mencari suami bukan pacar.
cukup prihatin dengan negara ini, saya pikir hampir seluruh pemimpinnya bekerja hanya untuk mendapatkan uang saja, hanya untuk mendapatkan jabatan saja, hanya untuk formalitas dan kehormatan semata.
mereka bekerja bukan untuk membangun negeri ini menjadi makmur, menjadi kaya, menjadi maju. mengapa saya berkata demikian? bisa kita lihat hampir seluruh yang menjadi pemimpin di negeri tercinta ini berasal dari orang yang berduit !
kalau mereka semua bekerja hanya untuk mencari duit, bukan kah ujung-ujungnya itu akan meretas menjadi tindakan korupsi?
banyak sekali yang memprihatinkan di negeri ini mulai dari rakyat, ekonomi, pendidikan dan pemimpinnya.
terlebih lagi dengan sistem pendidikan di Indonesia, mengapa kita harus dituntut untuk mempelajari hal-hal yang bukan ke ahlian kita? Oke kalau sekedar hanya ingin memberi tahu bisa-bisa saja akan tetapi tidak sampai pada hal-hal yang mengajarkan kita pada permulaan untuk menjadi korupsi yaitu "ULANGAN" bukankah dengan adanya ulangan tersebut generasi penerus bangsa akan menanam bibit korupsi dalam dirinya sendiri sejak dini hari?
korupsi bukan hanya dari segi materi tapi juga dari segi pendidikan dan waktu
saya berbicara disini hanya untuk mencurahkan semua kegundahan saya.
mereka bekerja bukan untuk membangun negeri ini menjadi makmur, menjadi kaya, menjadi maju. mengapa saya berkata demikian? bisa kita lihat hampir seluruh yang menjadi pemimpin di negeri tercinta ini berasal dari orang yang berduit !
kalau mereka semua bekerja hanya untuk mencari duit, bukan kah ujung-ujungnya itu akan meretas menjadi tindakan korupsi?
banyak sekali yang memprihatinkan di negeri ini mulai dari rakyat, ekonomi, pendidikan dan pemimpinnya.
terlebih lagi dengan sistem pendidikan di Indonesia, mengapa kita harus dituntut untuk mempelajari hal-hal yang bukan ke ahlian kita? Oke kalau sekedar hanya ingin memberi tahu bisa-bisa saja akan tetapi tidak sampai pada hal-hal yang mengajarkan kita pada permulaan untuk menjadi korupsi yaitu "ULANGAN" bukankah dengan adanya ulangan tersebut generasi penerus bangsa akan menanam bibit korupsi dalam dirinya sendiri sejak dini hari?
korupsi bukan hanya dari segi materi tapi juga dari segi pendidikan dan waktu
saya berbicara disini hanya untuk mencurahkan semua kegundahan saya.
Sekian
Selasa, 10 Januari 2017
Resah
Assalamualaikum wr.wb
disini saya hanya mengeluarkan isi hati saya tanpa maksud untuk menyinggung atau apapun itu
Terkadang saya berfikir manfaat dari sebuah pengkaderan. Kata para
senior pengkaderan itu tempat dimana kita dilatih untuk menjadi pemimpin yg baik,
melatih mental kita, melatih kamampuan kita.
Tapi menurut saya pengkaderan kalau hanya untuk sekedar
menjadi pemimpin yang baik itu tidak lah seharusnya menggunakan kekerasan. Kita
dikader tidak bertujuan untuk di siksa, dijadikan ajang perpeloncohan. Jika alasannya
kemudian ialah membangun mental, solidaritas, dan kebersamaan saya pikir itu
hanya omong kosong belaka, pengkaderan seperti ini hanya menciptakan tradisi
balas dendam pada kader-kader selanjutnya, itu berarti KEBODOHAN DAN RASA DENDAM
AKAN ABADI ! . Tidak ada yang namanya solidaritas jika tujuannya hanya untuk saling melatih
fisik dan mempermalukan. Kita dikader hanya untuk mendapatkan ilmu bagaimana
menjadi pemimpin yang baik dan mengaplikasikannya di luar sana , bukan
bagaimana menjadi senior yang sangar, senior yang ditakuti..
Pengkaderannya yang melibatkan semua anggota baik itu wanita
maupun pria seharusnya bisa di tempatkan sebagaimana mestinya. Jangan sampai
senior ‘pria’ ringan tangan terhadap juniornya yang wanita dan ketika mengkader
setidaknya sewajar wajarnya lah.
Langganan:
Komentar (Atom)